ABADI

                                                                            Abadi

Dalam riuh dan taruh yang selalu kau temui, terima kasih telah membuatku untuk tetap merasa teduh sampai hari ini, selamat ulang tahun ibu.

Perjalanan panjang yang belum tentu cerah pernah kau lalui, luka yang tak kunjung mengering pernah kau miliki. Memilih menyerah mungkin bisa satu jalan yang bisa kau pilih, namun dalam dekapan gelap kau memilih untuk merawat cahaya-cahaya kecil sembari berharap kelak cahaya kecil itu akan menjadi binar untuk jalan yang lebih baik. Rembulan di langit tidak pernah memiliki cahayanya sendiri, namun kau memiliki cahaya yang kau rawat dan kau jaga sepenuh hati meskipun dalam temaram dan segala kesusahan.

Puluhan tahun lalu mungkin kau tidak pernah mengira bahwa hari ini kau akan tiba dalam perjalanan luar biasa yang akan membuatmu jauh lebih baik di saat ini. Hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun, semua telah dilalui sendiri. Meskipun dalam gelap, sepi, serta sendiri kau memilih untuk tidak berhenti.

Ibu, sosok hebat yang aku kenal sedari kecil, satu-satunya alasan yang membuat aku percaya bahwa esok akan cerah. Aku akan selalu mengingat bahwa ibu adalah orang yang selalu hadir dalam semua ritme kehidupan yang aku miliki. Ibu mengantarku ketika masuk taman kanak-kanak, dan ibu juga orang memelukku waktu wisuda. Hadir bukan hanya dalam bentuk fisik dan materi, melainkan juga dalam bentuk kasih. Lirihan doa ibu yang selalu beliau panjatkan pukul setengah tiga pagi adalah hal yang tak mungkin aku balas dengan apapun. Peluk ibu saat aku remuk atau uluran tangan ibu saat aku jatuh adalah anugerah yang aku miliki sampai hari ini. Walaupun memang kadang karena aku sendiri yang salah atau acuh terhadap semua nasehatmu, percayalah apapun yang sedang aku lakukan dan usahakan adalah jalan yang kutempuh untuk membahagiakanmu.

Maaf ibu mungkin hari ini aku belum bisa menjadi anak yang kau harapkan, belum bisa jadi seperti anak teman-temanmu yang telah membahagiakan orang tua seperti semestinya. Percayalah semua hanya perihal waktu, aku hanya berharap kau untuk tetap sehat dan senang menjalani kehidupan hari ini. Walau tidak secepat yang lain, tidak sekeren yang lain, atau tidak sesempurna yang lain, aku yakin dan percaya bahwa suatu saat akan membuat jauh lebih bahagia.

Tenang ibu, salahmu sebagai orang tua sudah pasti aku maafkan. Aku tau, dalam hidup kau juga baru pertama kali menjadi orang tua, baru pertama kali memiliki anak laki-laki, baru pertama kali, merawat dan membesarkan anak, tanpa harus meminta maaf aku juga akan selalu menerima kekuranganmu. Jika kehidupan kedua benar-benar ada, aku akan tetap memilih untuk hidup menjadi anakmu lagi. Kita perbaiki semua sama-sama, saling memaafkan, saling membahagiakan.

Sekali lagi, selamat ulang tahun ibu, kisah dan kasihmu akan tumbuh abadi dalam jiwa yang kau besarkan, dalam impian yang kau rawat, dan dalam doa yang selalu kau titipkan. Terkirim doa baik dariku untukmu selalu, tanpa perlu kau minta, tanpa perlu ada yang mengingatkan, dan tentunya tanpa perlu berhenti. I love you, ibu.  


Surat Kecil dari Anakmu

Agung Cahyono Putro

Karanganyar 18 Desember 2025


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

TEPAT WAKTU