ARAH

 

Arah

Misterius, rumit, renggang, terbang

            Pagi belum sepenuhnya utuh, hari ini engkau hadir bagai embun yang menghilangkan dahaga dalam cinta kering di gurun sahara, engaku juga hadir sebagai matahari pertama yang datang setelah malam yang tak kunjung reda, kau hadir dengan cara yang adakalanya, dengan cara yang selalu rumit dan dengan aksara dalam ketidakmengertian. Misterius kisahmu, namun apapun itu kamu selalu saja datang saat jam seiring jam dinding yang tak pernah berhenti berdetak. Sederhana kisahmu yang bercerita.

            Kau juga hadir bagai gerbang pertama yang membuka serangkaian perjalanan baru dalam hidup, gerbang menuju perealisasian angan, pencantuman mimpi yang berbonus validasi. Engaku juga hadir sebagai pelita dalam segala gelap keresahan dan kekhawatiran dalam penghadapi perputaran semesta ini. Engkau juga hadir bagai sayap tanpa ujung yang siap membawaku terbang ke tempat tak bernama namun terasa nyata. Tunggu aku yang hanya selangkah dari palung hatimu. Karena sebenarnya kita satu, andai kau tau.

            Engkaulah bisik dalam keheningan segala suara, engkau  adalah lengan yang suatu saat nanti aku jadikan tempat pulang, heningmu suaramu, lantangmu adalah ketidakpastian. Tanpamu aku adalah manusia tanpa kepala, berlajan dan berlari tanpa arah seakakan hidup mengalir dan merasa segalanya baik-baikk saja

            Cukup, di ujung perjalanan kita memiliki tujuan masing, kau tidak bisa lagi menyusulku, begitu juga aku yang sudah tak bisa lagi menunggumu. Aku akan baik-baik saja, kamu akan baik baik saja, aku bisa hidup tanpamu, begitupun kamu juga bisa hidup tanpaku, percayalah. Aku cukup menjadi dermaga yang selalu mengijinkanmu untuk terus berlayar secara diam-diam, persis saat engkau singgah pertama kali  dalam hidupku tanpa permisi kau langsung mengajakku belajar bagaimana caranya bahagia serta bagaimana caranya saling membahagiakan. Ada sesuatu tentangmu yang membuatku merasa baik-baik saja, entah apa.

            Hingga pada akhirnya sosok mirip Pegasus hadir mengajakmu terbang, hal yang sudah lama kau impikan, sosok yang dari dulu engkau idam-idamkan, hari itu aku melihat wajahmu sempura mirip purnama kala langit tanpa awan pada malam tiba, matamu berbinar mirip tetes embun pertama di ujung-ujung dedaunan, pergilah, terbang dan berbahagialah.

            Terimakasih telah hadir sebagai kompas di palung terdalam yang pernah aku selami, menjadi lentera dalam segala gulita, serta menjadi ruang tawa dalam segala sengsara. Terbanglah aku tetap disini, menunggumu dalam kedinginan di ujung bumi.

Salam Wahana

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU