JAM PASIR
Jam Pasir
Tak pernah terlupa kau tetiba hadir
dalam diri yang keras kepala ini, berbica ini itu apapun tentang dirimu,
tentangmu aku persilahkan, tentangku aku persilahkan, hingga mata kita terlelap
satu sama lain dalam ruang yang beda tapi dalam rengkuh yang sama. Kau terus
berputar bagai biangalala pada diri seorang yang keras kepala, kaki melangkah
mencari jalan keluar tapi tanganmu beberapa kali juga mencegahnya. Entahlah,
yang jelas aku akan menjadi sumber bagi airmu, bara dari apimu dan bumi dari setiap pijakmu
Aku adalah kertas kosong yang dulu
kamu isi dengan banyak hal, bait-bait puisi indah sering kau tulis disini,
mimpi-mimpi hebat pernah terukir disini, bahkan bekas air matamu juga masih
tersisa disini, tapi aku hanyalah kertas, beberapa kisah dapat kau hapus dengan
mudah, bahkan juga bisa dirobek, dibuang, dibakar atau ditinggalkan begitu saja.
Mencoba tak apa adalah cara terbaik saat ini sembari melihatmu riang gembira
seakan kau tidak sadar bahwa tulisan ini diketik oleh jemari yang tak pernah kau
genggam.
Beberapa hari terakhir kau kembali,
seperti biasa datang tanpa diduga mirip hujan badai saat musim kemarau, kukira
kau akan menanyakan arah pulang, ternyata bukan. Kau hanya butuh kertas kosong
yang dulu kamu dapatkan dan sekarang kamu akan menuanginya dengan tinta hitam
pekat lebih mirip tinta cumi laut dalam. Hmmm, apapun itu tentangmu aku
persilahkan. Seperti biasa kau kembali mengudara dengan mata coklatmu yang
berbinar menandakan kau sedang baik-baik saja. sebagai ucapan terimakasih
ternyata ada buah tangan untukku, sekali lagi terimakasih.
Selepas kau terbang buah tangan yang
berbentuk kotak itu lekas aku buka, dan ternyata isinya adalah jam pasir cantik
yang masih selalu kalah dengan parasmu, tak lupa ada sepucuk surat yang berisi
ucapan terimakasih dan kau berpesan untuk menjaga dengan baik serta tidak memperbolehkan aku untuk mengubah posisi
kotak dalam keadaan apapun. Kalimat terakhir surat juga berisi bahwa kau akan
kembali sebelum pasir di bagian atas turun secara keseluruhan. Selepas membaca
surat, titik dua lalu kurung tutup terpancar dari raut wajahku.
Ternyata apa yang aku harapkan
salah, di awal surat kau berpesan bahwa aku tak boleh merubah posisi jam pasir
dan di akhir surat kau berjanji bahwa kau akan kembali sebelum pasir dibagian
atas turun keseluruhan ke bawah, tapi jam pasir ini ternyata tidur dalam posisi
horizontal, ada pesan tersirat yang kau sampaikan, bahwa sebenarnya kau pergi dan tak
akan pernah kembali.
Salam Wahana :)
Topp
BalasHapusThanks
Hapusnangis bangettt :'DD
BalasHapusKenapa Oit haha
HapusTop
BalasHapusMakase
Hapus:)(
BalasHapusGimana tuh wkwkw
Hapus