BEJANA

 Bejana

Semalam aku dengar kabar bahwa bumi sedang diterpa hujan angin, dibalik pintu kamar aku selalu berdialog dengan khidmat walau aku tau itu hanya satu arah, setelah berdoa untuk beberapa petualangan selanjutnya, tak lupa aku juga mendoakanmu baik-baik saja disana. Setelah selesai bercengkrama dengan unjung langit, aku terduduk diam di atas tempat tidur dengan kepala menatap tanah untuk menghindari gravitasi rebah.

Setelah hujan reda, kakiku bergegas melangkah keluar, kalau kata orang” Dilangit yang engkau tatap, ada rindu yang aku titip” namun kataku,” Di ruang yang engkau rengkuh, ada harap yang aku taruh” entahlah. Hingga pada akhirnya waktu menimbunku dengan debunya, yang perlahan membuatmu sama sekali tidak mengingatku. Aku tidak tahu lagi kau ada dimana, sudah lama kita tidak saling menyapa, apa kau masih sama dengan sifatmu dulu yang bertahan dalam keangkuhan dan tak mau menjadi yang pertama dalam mengucap salam.

Dahulu kala kau datang dengan sebuah bejana halus mirip sikapmu pertama kali yang aku  kenal. Dengan bejana itu semua rencana akan menjadi nyata, gundah gulana akan sirna dan segala nestapa akan hilang begitu saja, ucapmu dengan sayu. Kau juga mengijinkanku masuk tanpa permisi dan kamu berseru “anggap saja rumah sendiri”.

Aku baru pertama kali masuk ruang yang hangat melebihi sikapmu saat ada maunya. Mencoba ini itu, mencari sana sini, serta mencari tahu apa itu. Namun bejana yang engkau bawa hanyalah bejana, kau bebas meletakanya dimanapun dan kau bebas meletakanya dimanapun. Satu hal yang aku tanyakan, kenapa bagimu pergi selalu mudah, sementara aku ,melupakanmu adalah hal paling susah. Kau berubah, dari seseorang yang dulunya aku pejuangkan, namun kini kau menjadi salah satu alasan untuk berperang. Kisah kita yang dulu pernah menggebu, kini sirna menjadi abu. Memilikimu dalam setiap rindu, adalah halu yang selalu menjadi ambigu.

Langit kian temaram, aku memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar dan bersiap menyambut hari esok yang masih samar-samar. Sebelum terlelap lebih jauh, tak lupa sekali lagi aku mendoakanmu baik-baik saja disana. Satu hal yang harus engkau sadari, bejana yang engkau titipkan masih aku jaga, kau dapat mengambilnya kapan saja, perkara tempat satu jawabnya.”sama”.

Salam


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU