PASANG DAN SURUT
PASANG DAN SURUT
Malam adalah waktu yang selalu datang dalam kehidupan
manusia. Sebagian besar orang menghabiskan waktu malamnya untuk istirahat,
sebagian orang menggunakan malannya untuk bekerja, sebagian orang menghabiskan
malamnya untuk bermain, sebagian orang menghabiskan malamnya untuk belajar,
sebagian orang lagi menghabiskan malamnya untuk berkumpul dengan keluarga. Tapi
anehnya orang bodoh satu ini menghabiskan malamnya untuk memikirkanmu. Aku
masih ingat, ketika dengan bodohnya aku masih selalu menunggu kabarmu yang
konon selalu datang lewat ujung jendela, aku masih menunggu sapamu walau waktu
sudah melebihi pukul dua, aku selalu menunggu tawamu yang mengundang candu,
padahal aku tau kau adalah sosok dinginnya melebihi kutub di ujung bumi, yang
saling berjauhan satu sama lain mirip kisah kita. Bagi beberapa orang, malam
adalah waktu panjang yang melengkapi kehidupan mereka. Dalam dekapan malam yang
sendu, kau selalu terlintas dalam hati. Kalau orang lain bisa saling tersenyum
ketika saling menatap, tapi setiap malam aku masih bisa tersenyum walau aku tau
kau tak mungkin menetap. Kalau orang lain bisa tersenyum ketika tangan saling
berjabat, aku juga masih bisa tersenyum walaupun kau telah menemukan sosok yang
lebih hebat. Entahlah, tidak penting lagi bagiku memikirkan tentang kau sedang
apa, apa kabar mama, atau hari ini bagaimana. Yang terpenting kita adalah sosok
yang pernah akrab hingga hari ini aku resmi mengenalmu sebagai asing. Kita
adalah manusia yang saling kenal, sebelum akhirnya kau dan aku gagal memeluk kekal.
“Hai… Apa kabar hari ini ?” Lagi-lagi dengan bodoh aku
menyapamu tanpa memikirkan apa yang akan terjadi setelahnya. Tentu aku masih
ingat dengan jelas bahwa kau akan menjawab bahwa harimu baik-baik saja. Awal
kisah aku kira jawabanmu adalah bentuk rasa malu sebagai manusia biasa, oiya
lupa ternyata kau bukanlah manusia, kau adalah malaikat, indah dan cantik tak
berkesudahan. Dalam kebodohan aku masih menganggap bahwa jawaban baik-baik saja
darimu adalah nyata, dalam kebodohan juga aku menganggap jawaban baik-baik saja
darimu adalah caramu untuk membuatku tenang. Sampai ternyata aku tahu bahwa
jawaban baik-baik saja darimu adalah caramu untuk memintaku agar tidak
memikirkanmu lagi, karena sejatinya kau sama saja akan tetap baik-baik saja
tanpa kehadiranku. Tenang saja, mulai hari aku melakukan pintamu untuk tidak
memikirkanmu lagi. Entah kau benar-benar baik saja atau tidak itu sudah bukan
urusanku.
Di ujung malam, laut selalu melakukan berbagai cara
untuk memeluk daratan dengan utuh, tapi daratan juga selalu punya cara untuk
menolaknya secara penuh. Lautan adalah sosok yang besar, menyerah adalah
kemustahilan baginya. Tapi daratan adalah sosok yang keras kepala, dia juga
tidak serta mau menerima dengan mudah. Dalam malam yang sunyi, laut selalu
berusaha mencoba menaklukkannya dengan pasang, mengerahkan segala kekuatan
untuk bisa menaklukan daratan. Hujan atau tidak, purnama atau tidak, dia akan
tetap melakukannya. Namun usaha tak berujung akhirnya dipertemukan dengan pagi.
Pasang yang awalnya sekuat tenaga untuk bisa menaklukanmu akan selalu kalah
dengan surut yang selalu dibantu mentari, hingga pada akhirnya laut memilih
pulang karena gagal menaklukkan daratan. Begitu juga dengan kisah kita, aku dan
kau bagaikan daratan dan lautan. Memilikimu adalah mimpi tak berkesudahan yang
selalu aku nantikan. Tanpa engkau sadari aku pernah menjadi pasang, berusa
memilikimu dengan utuh. Menanti hadirmu di pelangi selepas hujan, mencarimu
pada halaman demi halaman buku, tapi sekarang aku membiarkanmu lepas seperti
angin lalu.
Terima kasih telah menjadi daratan untuk singgah,
terima kasih telah menjadi teluk yang hangat untuk bersandar, terima kasih
telah menjadi dermaga pernah membuatku Bahagia. Engkau adalah sosok pertama
yang pernah aku sanjung dan banggakan setelah mama. Izin pamit, selamat
menjemput sosok laut yang dapat kau banggakan, memelukmu dengan erat dan
mencintaimu dengan sangat. Jadilah lebih baik dari apa yang aku inginkan,
jadilah lebih hebat dari apa yang aku dambakan.
Aku adalah lautan
Kau adalah daratan
Seluas apapun ruang yang coba aku rengkuh, kau selalu punya cara untuk acuh
Sebesar apapun pasang yang aku taruh, kau selalu bersama surut untuk berteduh
“Lautan dan daratan adalah sosok yang saling berdampingan, tapi menyatu adalah kemustahilan bagi keduanya, begitu juga dengan kita”
Salam Wahana
Komentar
Posting Komentar