KONFLIK RENOVASI GEREJA PAROKI SANTO YOSEPH DI KARIMUN KEPULAUAN RIAU SEBAGAI BENTUK DISKRIMINASI OLEH MAYORITAS

 

UAS KONFLIK DAN REKONSILIASI

KONFLIK RENOVASI GEREJA PAROKI SANTO YOSEPH DI KARIMUN KEPULAUAN RIAU SEBAGAI BENTUK DISKRIMINASI OLEH MAYORITAS

AGUNG CAHYONO PUTRO/205120107111015/C-5 KONFLIK DAN REKONSILIASI


PENJELASAN KONFLIK RENOVASI GEREJA PAROKI SANTO YOSEPH

Konflik agama memang sering terjadi di Indonesia, agama-agama minoritas seringkali menjadi korban pemeluk agama mayoritas, seringkali mereka tidak mendapatkan hak untuk menjalankan ibadahnya secara aman dan damai. Konflik semacam ini merupakan suatu bentuk intoleransi dan eksklusi sosial yang dilakukan oleh masyarakat pemeluk agama mayoritas terhadap minoritas, untuk itu makalah ini dibuat dengan tujuan memberikan gambaran kepada masyarakat akan pentingnya toleransi dan dampak dari eksklusi yang dilakukan.

            Dari berbagai konflik agama di Indonesia, pada tulisan ini penulis menganalisa mengenai penolakan terhadap renovasi Gereja Paroki Santo Yoseph yang terletak di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau.  Renovasi gereja tersebut dilakukan karena dianggap sudah tidak dapat menampung masyarakat yang beragama katolik untuk beribadah, hal tersebut dilihat dari kapasitas Gereja Santo Yoseph yang hanya dapat menampung sekitar 100 orang sedangkan jumlah masyarakat pemeluk agama katolik pada daerah tersebut sebanyak 700 orang. Masyarakat yang mengatasnamakan dirinya sebagai Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) tidak setuju adanya renovasi yang akan dilakukan pada Gereja Santo JosephFUIB melakukan penolakan terhadap proyek renovasi Gereja Santo Yoseph dengan alasan bahwa mayoritas masyarakat Karimun beragama Islam.

Konflik terjadi pada 6 Februari 2020 ketiga kegiatan pembongkaran gereja sedang berlangsung, baru sekitar 30 menit dilakukan pembongkaran ada 5 personil polisi datang dan meminta untuk pembangunan dihentikan untuk menjaga kondusifitas, namun pembongkaran tetap dilakukan (Chairunnisa 2020). Massa yang berkumpul untuk melakukan penolakan mulai tersulut emosi akhirnya mulai arogan dengan menggoncang pagar serta melontarkan caci maki dan ujaran kebencian.

 

TEORI :

Konflik menurut Ralf Dahrendorf yaitu adanya kepentingan yang bersifat tersembunyi dan adanya keinginan untuk menguasai merupakan penyebab utama dari terjadinya sebuah konflik sosial dalam masyarakat (Setiyawan and Maret 2018). Namun ada faktor lain yang menyebabkan konflik sosial dapat terjadi dalam masyarakat seperti kondisi politik, kondisi sosial pada masyarakat tersebut, serta hubungan komunikasi yang seringkali terjadi salah paham juga terkadang membuat konflik sosial dapat terjadi dalam masyarakat . Dominasi yang ingin dilakukan suatu kelompok lain terkadang membuat kelompok minoritas atau kelompok yang memiliki kekuasaan rendah terhadap sistem tereksklusi serta pemenuhan hak tidak berjalan secara optimal.

Kasus konflik penolakan renovasi Gereja Santo Yoseph di Karimun relevan apabila dikorelasikan dengan teori konflik yang dikemukakan oleh Ralf Dahrendorf. Konflik yang terjadi di Karimun tersebut merupakan konflik antara kelompok umat muslim dengan masyarakat Katolik. Dominasi yang akan dilakukan disini terlihat, bahwa masyarakat muslim daerah Karimun yang berlaku sebagai mayoritas tidak ingin bahwa ada perkembangan dari kelompok lain yang dianggap mengganggu dominasi mereka pada wilayah tersebut, sehingga terjadilah aksi protes dan penolakan terhadap pembangunan Gereja Santo Joseph.

·       ALAT BANTU ANALISIS

Pada konflik kali ini, penulis menggunakan pohon konflik sebagai alat analisis. Pohon konflik merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menganalisis konflik yang divisualisasikan melalui tiga bagian yaitu akar, batang, dan daun. Akar dalam pohon konflik menjadi representasi terhadap penyebab suatu konflik. Batang direpresentasikan sebagai inti dari suatu konflik yang terjadi. Terakhir yaitu bagian daun merepresentasikan sebagai akibat dari adanya suatu konflik yang sedang terjadi (Dewi et al., 2022).

     

 

Dalam kasus penolakan renovasi gereja Santo Yoseph yang ada di Karimun, Kepulauan Riau tersebut dapat dianalisis melalui pohon konflik:

a.     Akar : Pada bagian ini konflik yang terjadi dalam renovasi disebabkan karena kurangnya toleransi umat Islam yang ada dalam wilayah tersebut. Masyarakat muslim yang mayoritas disana menolak adanya proses renovasi

b.     Batang : Masalah inti pada permasalahan ini yaitu ketika masyarakat yang mengatasnamakan Forum Umat Islam Bersatu (FUIB) menolak adanya renovasi Gereja Santo Yoseph)

c.     Daun : Akibat dari adanya penolakan tersebut, akhirnya pada tanggal 6 Februari 2020 terdapat penolakan dengan bentuk ujaran caci maki dan massa mendorong gerbang ketika renovasi dilakukan.

·       RESOLUSI KONFLIK :

Berdasarkan penjelasan yang telah dijelaskan diatas penulis menawarkan beberapa resolusi konflik penolakan renovasi Gereja Santo Yoseph

a.     Pembentukan Forum Kerukunan Antar Umat Beragama dapat dilakukan untuk meningkatkan toleransi masyarakat di Karimun, Kepulauan Riau. Hal ini perlu dilakukan untuk agar masyarakat dapat menerima masyarakat yang beragama berbeda dengan mereka dan dapat hidup berdampingan

b.     Pemerintah harus memberikan sanksi tegas terhadap pelaku penolakan. Adanya pemberian sanksi tegas ini bertujuan untuk meminimalisir hal serupa terjadi di kemudian hari. Dengan adanya sanksi tegas masyarakat juga tidak mudah berperilaku semena-mena terhadap masyarakat minoritas.

c.     Masyarakat Karimun, kepulauan harus berpartisipasi aktif terhadap segala bentuk kebijakan dan peraturan yang dibuat untuk menciptakan toleransi agama yang ada di Karimun, Kepulauan Riau

 

 

KESIMPULAN

Kasus penolakan renovasi gereja yang ada di Karimun merupakan satu dari banyak contoh kasus intoleransi yang ada di Indonesia. Perbedaan yang tidak ditanggapi secara tepat menjadi masalah yang berujung konflik pada masyarakat. Dominasi mayoritas terkadang membuat minoritas kehilangan hak mereka, sehingga para minoritas merasa kurang nyaman untuk menjalani kehidupan. Masyarakat Karimun yang mayoritas beragama Islam menolak adanya renovasi gereja yang akan dilakukan untuk menambah kapasitas demi kenyamanan ibadah. Renovasi tersebut lantas mendapatkan penolakan dari masyarakat muslim di wilayah Karimun.

            Kasus semacam ini banyak sekali ditemukan pada masyarakat Indonesia. Toleransi merupakan sebuah hal yang sukar untuk dicapai namun tidak menutup kemungkinan untuk terus diperbaiki. Peran pemerintah menjadi kunci dalam membentuk iklim toleransi yang ada dalam masyarakat. Selain itu partisipasi masyarakat juga diperlukan untuk menciptakan suasana yang kondusif di tengah perbedaan yang ada.

 

 

 

 

 

 

 


 

DAFTAR PUSTAKA

Amindomi, Anyomi. 2020. “Pembangunan Gereja Di Tanjung Balai Karimun Ditolak Warga Meski Sudah Kantongi IMB, Mengapa Aksi Intoleransi Terus Terjadi?” BBC News. Retrieved (https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-51444700).

Chairunnisa, Ninis. 2020. “Kronologi Penolakan Gereja Di Karimun.” Retrieved (https://nasional.tempo.co/read/1304855/kronologi-penolakan-renovasi-gereja-di-karimun/full&view=ok ).

Dewi, K. F., Sumerta, G., Hidayat, E., Pertahanan, U., Indonesia, R., Helsinki, P. M., Aceh, P. P., Helsinki, M., International, A., & Aceh, P. D. (2022). Pemerintah Pusat Republik Indonesia Terhadap Implementasi Memorandum of Understanding Helsinki. Jurnal Education and Development, 10(1), 1–7.

Setiyawan, Khabib Bima, and Universitas Sebelas Maret. 2018. “Teori Konflik : Sebuah Kajian Menuju Pemikiran Ralf Dahrendorf Teori Konflik : Sebuah Kajian Menuju Pemikiran Ralf Dahrendorf Dosen Pengampu : Dr . Argyo Demartoto , M . Si Disusun Oleh : Khabib Bima S Nurul Istiqomah Yossy Elsatama.” (October):0–15. doi: 10.13140/RG.2.2.24667.41763.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU