Dedikasi dan Kebermanfaatan
DEDIKASI
DAN KEBERMANFAATAN
Cuma sekedar
opini kok, nggak pakai bahasa baku. Setuju yauda, engga cuek
Oke mulai.
Sebelumnya selamat yaa buat yang nilainya udah keluar, selamat yang uasnya udah
selesai, selamat yang masih uas, semangat juga yang belom uas. Dan selamat atas
apapun yang kalian capai di hari ini.
Jadi gini
perihal dedikasi dan kebermanfaatan, merupakan dua hal yang kompleks dan bakal
panjang kalau misal dibahas. Dua hal ini berkaitan dan bisa dilihat dari
perspektif manapun. Cakupannya yang luas membuat dua jalan ini banyak ditempuh
banyak orang. Tapi karena luas juga kedua jalan ini enggak dipilih oleh
sebagian orang. Konteksnya adalah tahun baru, banyak hal baru yang coba
dicapai, banyak hal baru yang coba dibentuk. Intinya hampir semua baru, minimal
pikiranmu pasti ke semua yang baru, meskipun realitanya ga gitu yaa. Lanjut
dalam hal baru itu juga sebagian orang menentukan jalan baru yang ingin mereka
capai, jalan baru yang ramai atau jalan baru yang sepi. Semua ada plus dan
minusnya masing-masing.
Langsung aja
deh daripada kebanyakan improve. Jadi gini, ketika tahun selesai mungkin
sebgian dari kita selesai juga dalam sebuah pekerjaan, pendidikan, organisasi,
atau pekerjaan lain. Kegiatan yang udah menjadi keseharian kita, kegiatan yang
menjadi rutinitas kita. Dari kegiatan yang yang dilakukan setiap hari
melahirkan kebiasaan. Kita bingung dong klo misal ga ada kegiatan pasti gabut.
Tapi lebih daripada itu sebenarnya kegiatan bisa memunculkan karakter. Ada
rumusnya di buku bagus banget, lupa lagi judulnya apa, intinya gini (Pikiran
mempengaruhi tindakan, tindakan menjadi kebiasaan, kebiasaan menjadi karakter,
karakter menentukan nasib). Sekedar
sharing aja, jadi aku demisioner ketum di salah satu LSO di FISIP. Jika ditanya
aku mau jadi ketum lagi atau enggak jujur jawabannya mau. Dan aku yakin semua
ketum, kahim, atau bahkan pres sekalipun jawabnya itu juga, walaupun cuma
berdasar dari survei kecil-kecilan, ternyata orang-orang itu punya pikiran yang
sama. Kenapa semua bisa terjadi ? nah itu prosesnya panjang. Tapi intinya
selama kita tahun berkegiatan (menjabat) itu sebenernya ga dapet apa-apa misal
kita kalkulasikan dengan hal lain yang mungkin bisa dilakukin, misal kerja
dapet duit, magang, dapet pengalaman dan relasi, bisa dapet duit juga, ngejar
hobi dapet seneng, bisa dapet duit juga. Organisasi ga bisa ngejamin kamu dapet
itu semua, kmu “Cuma” bakal dapetin jalan yang orang lain ga dapet, selebihnya
enggak. Kembali ke konteks kenapa pengin ngejabat tadi, jawabnya gini ya karena
kita mungkin secinta itu, kita ga rela kalau kita tinggalin bakal jadi lebih
buruk, walaupun kita ga bagus-bagus amat, kita khawatir klo misal kita
tinggalin adek-adek kita ga bisa bakal jadi lebih baik dari kita. Kedua yaa
kita udah tau kurang dan lebihnya organisasi kita, jadi ya tinggal lanjutin aja
apa yang baik, perbaiki aja apa yang kurang, dan buang aja apa yang salah.
Fakta juga mungkin hampir semua orang nyesel karena ga ngasih yang terbaik, mau
ngasih tapi ternyata waktunya udah abis, tapi yauda emang penyesalan tuh
datengnya di akhir. Intinya gitu, ada kekhawatiran, ambisi, cinta, dan
perjuangan yang coba kita lanjutin, tapi ya gabisa aja, karena udah abis
waktunya.
Contoh lain
dalam konteks yang lebih makro, banyak pejabat negara yang rela nyalon lagi
buat benerin daerahnya. Banyak anggota TNI yang rela mati demi Indonesia.
Banyak atlet yang jatuh bangun di lapangan demi banggain negara. Itu Cuma
sebagian aja, sisanya analoginya sama. Setiap orang punya caranya sendiri dalam
perjuangan yang mereka lakukan
Nah dua
paragraf di atas kalimat ini, adalah bentuk dari dedikasi yang yang ada. Ga
peduli feedback yang kita dapetin ga sebanding dengan apa yang ada dipikiran
kita, ga sebanding klo misal apa yang kita lakuin udah ga worth it dengan
keadaan hari ini. Tapi selama masih bisa dijalanin dan ga ngerugiin orang lain
ya ambil aja, jalanin ajaa. Tapi kalau misal nggak ya gapapa. Setiap orang
punya tujuan dan setiap orang punya pilihan masing-masing. Salah satu tujuan
orang adalah kebermanfaatan, nah kebermanfaatan ini luas, definisinya juga
bebas gabis akita atur.
Di paragraf
ini mungkin bakalan sedikit ngobrolin kebermanfaatan, aku juga bakal sedikit
memandang dari sisi agama, yang ga mau baca skip aja cuek. Tapi yang mau baca
ayok. Jadi gini, banyak narasi orang atau mungkin dari kita yang bernarasi
bahwa “Ya aku bakal mentingin diri sendiri, bakal urus diri sendiri, ga mau
capek, penting seneng”. Narasi yang riuh terdengar mungkin di telinga kita.
Lantas apakah narasi itu salah ? jawabanya tidak. Narasi itu ya punya orang,
dia punya pilihan dan dia pasti punya resiko. Setiap orang berhak menjemput
bahagianya, setiap orang berhak juga menjemput senang dalam hidup, lagi-lagi
definisi senang itu luas. Tapi mungkin juga sering denger, ada satu narasi
tandingan “Ya kalau mikirin diri sendiri terus, kapan mikirin orang lain. Ya
memang dunia itu tempatnya capek, kalau mau istirahat dan seneng ya nanti di
akhirat”. Lantas apakah narasi itu salah ? jawabannya tidak. Makna bahagia
seseorang beda-beda, dan cara menggapainya beda-beda. Perihal susah dan seneng
ada yang percaya bahwa kita bisa ngatur itu, tapi ada juga yang percaya bahwa
susah dan senang itu karena orang lain. Kalau payung teduh “Semua rasa bis
akita cipta” yaa perihal perasaan kita sendiri yang menentukan, entah orang
lain atau diri sendiri yang membentuk, ada faktor internal dan eksternal yang
bis akita control tapi ada juga yang tidak.
Ada dua
perspektif disini, pertama ngutamain diri sendiri dan kedua ngutamain orang
lain. Kalau kata Hindia “ Bisakah kita tetap mengobati walau membiru”, “Walau
kering, bisakah kita tetap membasuh”, “ Sedikit air yang ku punya, milikmu juga
bersama”. Penggalan lirik Membasuh dari Hindia adalah suatu kondisi dimana
dapatkah kita dapat bermanfaat walaupun kondisi kita sedang terbatas, makna
juga bisakah kita tetap memberi walaupun diri kita serba kurang. Ini adalah
perihal kebermanfaatan, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang
lain. Konteks ini mungkin akan dinarasikan bahwa kita akan berusaha untuk
menjadi manusia yang terbaik dalam versinya sendiri. Konteks kebermanfaatan
disini adalah berguna bagi sesama dan sekitar, berguna disini luas banget bisa
mencakup banyak hal. Dan banyak juga yang ngejar itu. Ini mungkin terdengar
sebagai hal yang sepele, tapi bakal susah dilakuin. Bahasa kerennya mungkin
bagian dari “Act of service” dalam ranah yang luas. Nah kebermanfaatan ini bisa
dilakukan secara umum kepada tiga hal, Tuhan, Bangsa dan almamater. Narasi yang
selalu dibawa anak-anak ITB, tapi emang itu bagian dari mereka untuk
mengkonstruksikan kebermanfaatan untuk Tuhan mereka, bangsa mereka dan
almamater mereka. Bagus banget kalau baca secara filosofis slogan itu. Tapi
keliatan sendiri kan bagaimana hasil karya ITB di hari ini. Suatu relevansi
dari pikiran dan juga nasib yang udah aku tulis di atas tadi.
Lantas
bagaimana yang memikirkan dirinya sendiri terlalu berlebihan ? ingat ada
kalimat berlebihan yaa, bukan berarti orang yang bermanfaat tadi ga mikirin
dirinya sendiri sama sekali. Orang yang terlalu mikirin dirinya sendiri ya akan
tetep dapet apa yang ingin mereka kejar, mereka akan dapet kok apa yang mereka
impikan, mereka juga bakal dapet kok apa yang mereka sebut bahagia. “Allah
memberi sesuai dengan apa yang kita niatkan”. Kalau kita niat bahagia yaitu
dapet, kalau niat seneng ya juga dapet. Balik lagi dong, kalau niat mereka buat
tuhan, ya bakal dapet Tuhannya, ya kalau yang mereka niatkan bangsa, yang akan
dapet bangsanya, kalau mereka niatkan buat almamater, akan dapet almamaternya.
Lagi-lagi kebermanfaatan bukan untuk diri sendiri saja bakal dapet manfaat lebih.
Sampai
disini mungkin kita semua pasti bingung mau diposisi yang mana, bermanfaat bagi
orang lain tapi capek, atau mau bahagiain diri sendiri tapi hambar. Semua
adalah pilihan dan setiap orang punya alasan buat memilih. Ada orang yang
bilang “Udah kamu istirahat dulu yaa, nanti kamu capek” ada juga orang yang
bilang “Abis ini mau lanjut kemana, apalagi yang mau dikerjain, masa iya
berhenti gitu aja”. Semua punya maksud yang baik untuk mengingatkan. Semua
punya caranya sendiri untuk perhatian dengan kita.
Tapi kalau
kamu tanya aku dalam posisi yang mana, aku akan milih kebermanfaatan. Lantas
apakah aku akan melupakan kebahagiaan ? tentu tidak. Kebahagiaan orang lain
adalah kebahagiaanku juga, berguna bagi orang lain adalah senangku juga. Selama
aku masih bisa ngejalanin ya bakal jalanin aja. Tapi buat kalian yang pengin
untuk bahagia bagi orang lain ya gapapa. Aku ga bisa ngatur bahagiamu, tapi
gimana kalau “kamu” jadi bahagiaku ?
Wkwk udah
lah ya, capek cuy. Ambil aja apa yang bisa diambil, di atas rangkuman dari
dedikasi dan kebermanfaatan. Gambaran kenapa orang sampai mau memberikan apapun
untuk orang lain itu yang aku sebut sebagai dedikasi, dan juga gambaran kenapa
orang masih mau ngebantu orang lain dalam hal apapun itu yang aku sebut
sebagai kebermanfaatan. Terlepas dari background kita yang beda-beda, tapi
aku harap kita dapat bersama dalam menebar kebaikan. Dan sekian, happy holiday
and happy weekend.
Agung C. P
Karanganyar, 7 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar