Langit Tak Selamanya Biru
Langit Tak
Selamanya Biru
Awan mulai menari kesana
kemari dengan riang, begitu juga dengan mentari yang berjalan secara perlahan
tanpa arahan. Mentari sudah tau caranya berjalan, mentari tau kapan waktunya
dia untuk bangun, dan mentari tau kapan waktunya dia untuk tertidur. Semua telah
ada waktunya masing-masing. Pagi hari langit seringkali menguning, siang hari
biasanya langit tampak biru, sore hari seringkali langit memerah, dan pada
malam harinya langit secara perlahan mulai menghitam. Semua berjalan begitu
saja, sebagian dari manusia mungkin ada yang memuja bahwa langit biru adalah
bagian dari langit yang utuh. ada juga mereka yang menyukai tentang langit
kuning, dan ada juga mereka yang menyembah langit merah. Semua tidak ada yang
salah, manusia berhak memiliki kecintaan masing-masing terhadap langit yang
mereka lihat. Setiap warna langit memiliki makna tersendiri bagi manusia.
Langit tidak selalu biru, dan cintamu juga tidak harus aku. Kiw-kiw
Di ujung bulan, lagi-lagi aku
menemukan bahwa manusia adalah sosok tak berujung, pintanya yang tak
berkesudahan membuat terkadang kita sama-sama melihat bahwa sebenarnya kita
akan hidup sebagai manusia atau tidak. Dalam hidup tentu tidak semua yang lihat
sama dengan yang dilihat oleh orang lain. Tidak semua yang kita suka, disukai
juga oleh orang lain, tidak semua yang kita harapkan juga diharapkan oleh orang
lain. Semua bisa jadi berbeda, namun tidak sepenuhnya, ada beberapa persamaan
juga. Aku ajak kalian untuk sama-sama mengulas tentang apakah kita telah
menjadi manusia yang utuh, atau justru sebaliknya. Kuning langit di ujung pagi
mengingatkan kita bahwa harapan itu mulai muncul, kegembiraan itu mulai
dibentuk, dan bahagia itu akan segera datang. Tapi bahagia yang kita cipta
belum tentu bahagia juga bagi orang lain, bahagia yang kita bina bisa jadi
derita bagi orang lain. Ada yang takut untuk menjemput bagi karena khawatir
dipeluk gagal, ada yang enggan menerima pagi karena ia rasa malam masih kurang
panjang. Lagi-lagi kita berbeda dengan orang lain.
Dalam gagahnya biru
seringkali aku melihat diriku utuh. Siang adalah ladang bagi kebanyakan orang
untuk menunjukan jati dirinya, birunya langit adalah media bagi mereka yang
berkarya, dan cerahnya langit juga menjadi pijakan bagi mereka yang berusaha
untuk meraih mimpinya. Tapi bagi sebagian orang, siang adalah derita dan siang
adalah nestapa. Banyak dari mereka yang gagal di siang itu, banyak dari mereka
yang merasa berat ditindih oleh ekspektasi orang lain, dan banyak dari mereka
yang lelah dikejar oleh sang waktu. Lagi-lagi semua berbeda, dua entitas
manusia yang berbeda. Biru mulai berpamitan, di tengah jalan bertemu dengan
merah yang selalu menyapa dengan hangat. Anak muda berkumpul dengan rekan
sejawatnya, anak-anak mulai pulang karena dipanggil mama, dan para orang tua
bergegas undur diri agar segera menemui keluarga. Tapi sebagian dari manusia
ada yang bersiap untuk berangkat bekerja, ada yang hasil kerja siang hari ini
belum sesuai target, dan ada yang menyesal karena hari ini tidak sebaik
kemarin. Lagi-lagi, kita semua punya alasan masing-masing, dan kita semua punya
pemikiran masing-masing.
Lalu kita semua dipertemukan
dengan malam, heningnya kadang membuat hangat. Purnamanya membuat terkadang
kita mengerti arti utuh dan kilau bintangnya mengingatkan kita tentang taruh.
Malam akan menjadi teman yang asyik bagi sebagian orang, menghabiskan secangkir
kopi kebanggan membuat malam akan selalu dinantikan. Tapi lagi-lagi bagi
sebagian orang lagi, malam adalah sebenar-benarnya gelap, banyak dari mereka
yang tidak tau besok harus berbuat apa, banyak dari mereka yang khawatir bahwa
besok derita akan tiba, dan banyak dari mereka yang merasakan lara di malam
hari padahal siangnya sempat lupa. Kita semua berbeda, sama adalah hal yang
sulit untuk dipaksa.
Merujuk pada pemaknaan langit
bagi setiap orang menuai berbagai perbedaan. Di satu sisi ada yang bahagia, dan
di sisi lainnya ada yang terluka. Kebanyakan manusia adalah mereka yang hidup
dalam belenggu kalkulasi, kebanyakan dari mereka adalah yang hidup selalu
melihat ke atas secara menerus, sebagai dari mereka adalah orang yang sulit
untuk mengucap cukup. Semesta ini luas, berjalanlah lebih jauh, lihatlah lebih
luas, dan melompatlah lebih tinggi. Apapun yang kita miliki hari ini bisa jadi
adalah milik orang lain juga, apapun yang kita sesali hari ini bisa jadi
harapan orang lain juga. Langit tidak selamanya biru, tapi semesta dan orang
lain akan selalu membutuhkan bantuanmu.
Agung C. P
Karanganyar, 29 Januari 2023
Komentar
Posting Komentar