Aku, Kau dan Sriwedari
AKU, KAU, DAN SRIWEDARI
Satu langkah pertama untuk mengerti bahwa memilikimu adalah
fana tapi mencintaimu adalah nyata.
Hampir satu setengah tahun
lebih aku mulai akrab denganmu, mencari namamu dalam kelas virtual, mengikutimu
di medial sosial, mencari makanan yang kau suka, dan menyapamu dalam akhir doa.
Lagi-lagi, perihal melupakan aku adalah orang lemah, lebih lemah dari sang
pendatang yang telah lama tidak di telpon mama. Kau sempat menyapaku dengan
bangga di ujung lorong, aku sempat menatapmu dari kejauhan. Persis hari ini,
aku dengar kabar bahwa kau masih baik-baik saja disana, tidur dengan dekapan
hangat mimpi indahmu, bangun dengan tegap langkahmu.
Binar matamu masih sama
seperti saat pertama kali kita bertemu. Lebih indah dari purnama, lebih abadi
dari sang waktu. Perihal memuji cantikmu sudah sering aku lakukan, perihal
mendoakanmu sudah pasti aku lakukan. Tapi aku rasa sekarang bukan tentang
saling memuji, tapi tentang saling mengerti. Aku paham kau hari ini sibuk
dengan duniamu sendiri yang indah tanpa aku. Maaf jika hadirku mungkin menjadi
ranjau yang selalu berusaha kau hindari. Terlambat mengerti lebih baik dari
terlambat menghargai. Aku tidak pernah tau rasa apa yang pantas aku rasakan
hari ini, tapi aku tau kau tidak ada rasa denganku sampai hari ini.
Kita sekarang adalah asing,
besok kita adalah usang. Berkabar yang dulu terjadi setiap hari sekarang cuma
sesekali, berbincang yang dulunya tiap saat sekarang juga Cuma sesaat. cepat
atau lambat, mungkin waktu akan menjawab. Aku kau dan kau hari ini sedang
sama-sama berjalan, menempuh perjalanan panjang menuju akhir tanpa pernah
melewati mulai. Sampai di suatu saat nanti, aku ingin kita kembali bertemu
dengan keadaan yang sama-sama lebih baik. Jika aku dan kau tidak kunjung
menemui jalan tengah yang telah kita susun, aku rasa jalan sendiri-sendiri
tidak buruk juga. Singa yang paling gagah di hutan tidak selalu jalan
beriringan, paus yang berkuasa di lautan juga tidak berenang berbarengan.
Mungkin aku dan kau hari ini memang tidak ditakdirkan untuk menjadi kita.
Aku dan kau adalah kedua
orang yang berbeda. Makanan kesukaan kita berbeda, warna favorit kita berbeda,
musik kesukaan kita berbeda, film kesukaan kita berbeda, lantas apakah perasaan
kita juga harus berbeda?. Jika jawabnya iya, aku adalah orang yang lapang dada
dengan terpaksa. Kau adalah sosok kedua yang selalu aku banggakan dalam doa
setelah mama, kau adalah orang pertama yang aku cari dalam temaram, dan kau
adalah orang pertama yang aku sapa meski dalam nestapa.
Jika di ujung jalan yang kita
pilih kau telah menemukan sosok lebih aku adalah orang pertama yang bangga
melihat bahagiamu. Sampai jumpa ya di ujung jalan nanti, terima kasih telah
menjadi alasan buat aku terus berjalan bahkah berlari, terima kasih juga telah
menjadi alasan untuk terus menanti dan berharap tanpa pasti Di masing-masing
jalan yang kita tempuh hari ini, adalah jalan yang sama untuk mempertemukan
kita di ujung sriwedari.
Pamit ya, cepat atau lambat kembali adalah pasti.
Agung C. P
Malang, 27 Maret 2023
Komentar
Posting Komentar