TEDUH
TEDUH
Aku mulai
bingung bagaimana caraku menyapamu dari kejauhan, sedangkan menyapamu dari
dekat saja aku sungkan. Cerita yang dari dulu saja sudah asing, kita justru
malah menjadi usang. Cerita panjang, dalam pertemuan singkat.
Binar matamu
lebih terang dari pijar purnama, sikapmu lebih tenang dari lautan malam, dan
parasmu lebih hangat dari mentari yang baru terlihat. Perihal memujimu mungkin
aku sudah mulai kehabisan cara, tapi semesta juga tahu jika cantikmu tidak
hanya lahir dari paras. Cantik yang kau punya adalah kombinasi dari hati yang
teduh dan pikiran yang utuh. Jika siang yang panas tidak kalah dengan sikapmu
yang dingin, lantas bagaimana dengan aku yang sampai saat ini masih kau anggap
seperti angin, yang kau biarkan berhembus begitu saja tanpa kau sadari bahwa
hadirku adalah selamanya.
Hai makasih
yaa, udah jadi alasan buat terus berdiri bahkan lari, maaf belum sempat
mengantarmu ke ujung dermaga. Maaf belum sempat mengajakmu menikmati membeli
sarapan di awal pagi, belum sempat menyusuri lorong perpustakaan yang berisi
buku-buku yang masih kalah menarik dengan dirimu, belum sempat mengajakmu minum
kopi sambil melihat langit yang mulai merekah, dan juga maaf belum sempat
mengajakmu menghabiskan malam dengan menatap laptop bersebelahan sambil
berharap bahwa esok akan hadir bahagia tanpa berkesudahan. Maaf untuk ruang dan
waktu yang saat ini mungkin belum aku beri secara penuh, tapi percayalah bahwa
hatiku untukmu itu.
Sastra lama
berkata, di langit yang kau tatap ada rindu yang aku titip. Tapi bagi aku tidak
cukup jika hanya menitipkan rindu saja kepada langit. Ada doa baik yang selalu
aku titip kepada langit agar kau selalu baik-baik saja disana. Doa yang aku
harap selalu jatuh di kamarmu, doa yang aku harap selalu masuk ketika kau
membuka jendela pagi, dan tentunya doa yang aku harap juga bisa masuk relung
hatimu. Yaa, perihal masuk ke pintu hatimu adalah tujuan akhir dari semua
perjalananku. Perjalanan panjang yang lebih berat karena selalu diiringi rindu
dan waktu. Perjalanan yang entah kapan berakhir, padahal jelas-jelas sebuah
perjalanan yang tidak pernah melewati mulai. Cuaca di luar mungkin sedang
buruk, tapi aku harap komunikasi kita selalu baik. Mungkin kau tidak butuh
payung dalam perjalanan hidupmu, dalam dekapan mentari siang yang panas
atau ujaran hujan yang deras, hatimu akan selalu menjadi tempat bermukim yang
teduh. Entah siapa nanti yang akan tinggal di hatimu, percayalah aku sekarang
adalah orang yang mengusahakan itu.
Agung C. P
Malang, 24 Juni 2023
Komentar
Posting Komentar