KAPAL TANPA LAYAR

 KAPAL TANPA LAYAR

Bawalah bekal yang cukup dari hulu, sampai akhirnya kau menemukan apa yang kau cari di ujung hilir.

    Lahir adalah takdir, tapi menyerah bukanlah akhir. Dalam sebuah perjalanan panjang yang kita lalui terdapat banyak hal yang akan kita temui. Banyak hal yang kita temui terkadang adalah entitas tidak terduga yang hadirnya kadang mengejutkan, yang terkadang membuat kita berpikir ulang untuk melanjutkan perjalanan, yang akhirnya membuat kita lelah akan panjangnya jalan yang kita tempuh, sampai-sampai lupa kalau kita telah berjalan begitu jauh. Dalam memulai sebuah perjalan panjang, bekal adalah kunci, dengan bekal kita memiliki lebih banyak kemungkinan untuk bertahan dari kerasnya perjalanan, kita lebih memiliki banyak pilihan ketika menemui persimpangan, atau dengan bekal yang cukup setidaknya kita tidak merepotkan orang yang kita temui. Kapal mulai berlayar, mengarungi sungai besar bernama kehidupan, di dalam kapal telah siap ratusan awal kapal yang memastikan bahwa kapalnya baik-baik saja. Nahkoda yang telah belajar mengemudikan kapal, teknisi telah mengecek kondisi mesin, anak buah kapal telah menyiapkan perlengkapan perjalanan kapal, dan penumpang juga telah mentaati aturan menaiki kapal. Semua telah siap, menyiapkan semua yang terbaik, demi menghindari semua kemungkinan terburuk.

Perjalanan dimulai, semua terlihat baik-baik saja. Ditemani langit yang mulai menguning kapal melaju untuk mencapai tuju. Arus sungai yang terlihat tenang seperti hatimu selepas sembahyang mengantarkan kapal mulai menjauh dari hulu meninggalkan harapan bahwa semua akan bahagia sampai esok tiba. Hari berganti hari, semua penumpang kapal terlihat bahagia, mereka selalu disambut dengan sarapan yang nikmat serta senyum pelayan kapal yang hangatnya terus memikat. Sampai pada suatu temaram malam, hujan tak kunjung berhenti, sungai yang awalnya tenang berubah menjadi bergelombang yang besarnya tak menentu mirip sikapmu belakangan ini. Nahkoda yang berpengalaman serta awak kapal yang handal mulai kebingungan. Mereka cemas dan tak henti bertanya-tanya mengapa di sungai bisa ada gelombang seperti ini. Tetap berusaha keras untuk mengemudikan kapal, nakhoda terus berdoa, mulutnya tak berhenti memuji sang kuasa untuk meminta semua baik-baik saja. Sesekali tangannya menengadah sebelum akhirnya pasrah, walaupun sebenarnya ia tak mau untuk kalah. Kapal akhirnya terdampar di salah satu tikungan sungai karena gagal untuk berbelok arah, di malam itu juga seluruh awak kapal dan penumpangnya beristirahat di tepian sungai sembari menanti mentari esok pagi akan muncul. Ada harapan baru yang mereka tunggu, ada perjalanan panjang yang harus dilanjutkan, ada orang tercinta yang menanti mereka di ujung sana.

    Mentari baru saja menyingsing di kejauhan, dalam udara yang dingin suasana terasa hangat ketika para awak dan penumpang kapal saling bercengkrama. Selama ini mereka hanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing tanpa memikirkan orang-orang disekitarnya. Kehangatan sebenarnya bisa saja muncul di sekitar kita, akan tetapi terkadang kita sering mengabaikannya. Kita terlalu sibuk memikirkan yang jauh, tapi melupakan yang dekat, lantas apakah kau yang jauh di sana masih memikirkan aku di sini?

    Setelah bercengkrama panjang tidak terasa mentari telah tepat tiba di atas kepala, langit sedang biru tanpa abu. Waktu yang tepat bagi mereka untuk melanjutkan perjalanan. Setelah berdiskusi panjang akhirnya mereka baru menyadari bahwa layar yang seharusnya terpasang sebagai penyeimbang kapal sengaja tidak dipasang. Semua awak kapal dan penumpang hanya berpikir kalau mereka hanya berlayar melewati sungai, tidak melewati lautan atau samudra yang luas. Ratusan orang di dalam kapal tidak pernah memperkirakan badai akan menjemput mereka di sungai. Setelah layar terpasang mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju hilir. Tempat dimana mereka akan bermukim lalu menetap. Memulai kehidupan baru dengan penuh harap, memandang gemintang dengan tatap. Kapal telah bersandar di dermaga, dia terlihat gagah dengan layar dan kemilau lampu yang megah, lebih dari itu kapal bagi mereka juga menyimpan sejuta kenangan indah.

    Kita tidak pernah tau apa yang ada di depan kita, tugas kita sebagai manusia hanya menyiapkan. Bahkan dengan persiapan yang matang saja masih banyak rintangan yang bikin perjalan kita terhalang. Kapal tidak pernah mengira bahwa badai akan menimpa pada sungai yang tenang, mereka hanya berpikir bahwa badai akan selalu datang pada lautan yang dalam, bukan pada sungai yang dangkal. Layar yang berperan sebagai penolong sengaja dilupakan karena dianggap tak penting, mereka lebih mementingkan hal lain seperti kebahagiaan penumpang dan berapa banyak stok makanan yang mereka bawa. Lantas bagaimana jika kita adalah kapal dan sungai adalah perjalanan kehidupan?

    Bekal yang kita bawa belum tentu cukup mengantarkan kita untuk mengarungi panjangnya sungai. Sungai yang tidak tahu di mana ujungnya, dan sungai yang tidak pernah kita ketahui bagaimana bentuknya. Dalam perjalanan panjang, sesekali kita dapat menepi menambah persediaan bekal, mengecek kondisi kapal, lalu melanjutkan perjalanan dengan bekal utama bernama akal. Akal adalah sosok yang nantinya dapat menolong kita ketika terjadi bencana, dengan akal yang jernih, maka kita akan mampu melawan air sungai yang keruh. Ketika bekal dan akal telah maksimal, tugas kita sebagai hamba hanyalah tawakal.

    Allah selalu punya arusnya sendiri untuk menjadikan hambanya lebih kuat. Sungai yang kita lalui bisa berkelok-kelok, arus yang kita temui terkadang besar, kapal yang kita kendarai terkadang bocor, layar yang kita punya juga terkadang patah. Tapi percayalah, pertolongan-Nya akan selalu hadir di atas apa yang kita pinta. Berlayar adalah tugas manusia, jika tidak mampu menjadi nahkoda untuk orang lain, setidaknya jadilah nahkoda bagi dirimu sendiri. Jika tidak mampu mengantarkan orang lain menuju dermaga, setidaknya temanilah mereka mendapatkan bahagianya.

    Kapal telah mengantarkan semua penumpang tiba di ujung hilir, lantas apakah kau mau berlayar denganku untuk mengarungi samudra sebelum akhirnya aku dan kau akan sama-sama bermukim di surga?

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah maka Dia akan menjadikan jalan keluar baginya, dan memberinya rezeki dari jalan yang tidak ia sangka, dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah maka cukuplah Allah baginya, Sesungguhnya Allah melaksanakan kehendak-Nya, Dia telah menjadikan untuk setiap sesuatu kadarnya,” (QS. Ath-Thalaq: 2-3).

 

Agung C. P

Malang, 23 Agustus 2023

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU