SELUAS SAJADAH

 SELUAS SAJADAH

Sajadah yang kecil masih terlalu luas untuk menampung semua masalah yang kau anggap besar, bersujudlah.

Bagi beberapa orang hidup adalah perjalanan, bagi beberapa orang hidup adalah perjuangan, dan bagi beberapa orang lagi, hidup adalah penyesalan. Banyak orang dengan berbagai perspektif yang berbeda memiliki makna tentang hidup. Kita juga memiliki kebebasan sendiri untuk memaknai hidup kita. Dalam pencarian makna hidup, seseorang melewati banyak jalan yang berbeda, lika-liku perjalanan yang dilewati seorang manusia nantinya akan menentukan bagaimana dia ketika berada di garis akhir. Apakah dia akan lahir sebagai seorang pemenang atau mereka hanya tumbuh sebagai pecundang yang berhenti dan memilih pulang sebelum tiba pada tujuan mereka. Walaupun hidup bukanlah lomba lari, tapi tidak mungkin jika kita hanya jalan ditempat. Perjalanan panjang yang ditempuh manusia tentu melewati banyak hal, dalam perjalanan juga kita menemui banyak orang. Apapun yang kita temui dan kita lewati menentukan arah gerak kita kedepannya, masalah bisa menjadi ajang latihan buat kita untuk lebih kuat, dan manusia lain juga bisa menjadi kompas bagi kita ketika kita hilang arah. Tapi ketika masing-masing dari kita tidak mampu memaknai semua permasalahan dan manusia yang kita temui, bisa jadi kita akan tersesat dalam temaram, berhenti ditabrak gulita, lalu perjalanan yang telah kita mulai terasa sia-sia.

    Masalah demi masalah terkadang datang silih berganti, seiring semesta yang berotasi, permasalahan juga terkadang datang terlalu cepat yang terkadang membuat kita tak mampu beradaptasi. Ada orang yang bekerja pagi sampai malam tapi uangnya habis entah kemana, ada yang belajar mati-matian tapi nilainya tetap segitu saja, ada yang baru mulai projek tapi sudah keliatan gagal sejak awal, ada yang rajin olahraga tapi tetep gampang sakit, ada yang udah ngerasa tenang tapi tetap aja susah tidur. Setiap orang memiliki permasalahan yang berbeda, semua sesuai porsinya dan semua sesuai dengan kemampuannya. Tapi terkadang kita sebagai manusia biasa juga masih berpikiran kalau permasalahan yang kita alami hari ini terlalu berat. Seakan kita tak mampu untuk menemukan penyelesaiannya, kita buntu dalam menemukan solusinya. Segala cara kita lakukan, bekerja lebih keras, belajar lebih rajin, menabung lebih sering, bangun lebih pagi, tidur lebih malam. Segala upaya kita tempuh, tapi perihal hasil sampai kini belum keliatan hilalnya. Permasalahan yang kita alami tentu seringkali kita ceritakan kepada orang lain, tapi tidak semuanya berhasil, atau bahkan malah jadi lebih berantakan. Kita ceritakan ke orang tua terkadang malah dihakimi, kita ceritakan ke teman malah disebar ke teman yang lain, kita ceritakan ke guru solusinya juga masih kurang membantu bagimu. Lantas kepada siapa sepantasnya kita bercerita?.

   

Setiap harinya, Allah memanggilmu sebanyak lima kali untuk menceritakan semua yang kau alami. Kita terkadang sibuk dengan urusan masing-masing dan seolah tidak ada tempat lagi untuk bercerita. Subuh terkadang kita lewatkan karena rasa kantuk yang menerpa atau dikejar buru-buru karena bangun kesiangan dan memulai aktivitas. Dzuhur juga terkadang kita lewatkan karena sibuk akan urusan dunia yang jauh dari kata abadi, Ashar juga terlewat karena kita bersiap untuk pulang kembali ke rumah, Magrib juga kita lewati sembari menikmati kopi dan langit yang mulai menguning di kejauhan, terakhir Isya juga kau tinggalkan karena telah lelah melewati hari dengan penuh gundah. Sebenarnya kita tidak pernah kehilangan tempat untuk bercerita, cuma terkadang kita sengaja menjadi pelupa bahwa sebenarnya manusia masih mempunyai sang pencipta.

Sajadah yang kecil masih terlalu kuat untuk kakimu yang mulai kehilangan pijakan, sajadah yang kecil masih terlalu tangguh untuk menopang lututmu yang mulai rapuh, dan sajadah yang kecil masih terlalu tenang untuk menjemput keningmu yang kian bising. Kembalilah bersujud, bisikanlah masalahmu ke bumi, Allah akan senantiasa menyelesaikannya di langit. Langit akan riuh menyambut segala pintamu, menampung segala kesahmu, dan mengupayakan semua bahagiamu. Langit memang tak selamanya biru, lantas masih pantaskah aku untukmu?

 Agung C. P

Malang, 30 Agustus 2023

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU