REMBULAN PERTAMA

                                                                 REMBULAN PERTAMA

Semburat rembulan kembali menepi di ujung kegelapan. Hadirnya yang dianggap sebagai niscaya bagi sebagian orang, kini telah menjadi usang. Rembulan pertama hari ini meredup, tapi aku harap jiwamu terus menyala, walaupun kecil setidaknya jiwamu tidak pernah mati. Rembulan hadir dalam temaram yang menyelimuti, menjadi satu-satunya binar yang mengantarmu pada mimpi, jutaan mimpi yang bersemayam dalam tidurmu, entitas mimpi yang juga akan ikut bangun ketika kau membuka mata. Lahir dan tumbuhlah dengan jiwamu, mati dan hiduplah dengan caramu.

    Banyak hal pertama yang jauh dari kata sempurna, bicara pertamamu tidak langsung membuat orang lain terkesan, tulisan pertamamu tidak langsung membuat orang terpengaruh, lari pertamamu tidak akan membuatmu jadi juara, nyanyian pertamamu tidak membuat orang lain terkesima. Percayalah, langkah pertamamu akan banyak membuatmu berubah. Langkah yang kamu susun secara perlahan namun pasti itulah yang nantinya akan mengantarkanmu ke tempat yang menjadi titik tuju. Titik indah yang sebelumnya hanya bermukim di hatimu kelak akan nyata ada di depan matamu. Menjadi bingung adalah hal biasa bagi manusia seperti kita, kelak menjadi apa, bertemu dengan siapa, teman mana yang masih ada, bertanya apakah kita, itu semua bagaikan bianglala yang selalu berputar di hidup kita. Bianglala juga mampu menjadi analogi taktis ketika kita melihat kehidupan, terkadang di atas, namun juga terkadang di bawah, terkadang ramai akan pengunjung, terkadang sepi hingga dini hari. Begitu juga dengan apapun yang kita lalui sampai di titik ini, ramai, sepi, di atas, di bawah, semua telah kita jalani, tapi bagaimanapun perjalannya, akhirnya kita sampai juga.

    Kau tidak pernah menyangka sebelumnya pernah duduk di titik ini, titik dimana banyak hal baru yang dulu kau anggap biasa saja, kini menjadi sebuah entitas yang istimewa. Harum kamar tidurmu yang mulai kau lupakan karena lamanya merantau, teman sejawatmu yang mulai berlarian mengejar mimpinya, masakan mamamu yang sudah mulai asing di lidah, waktu bermainmu yang sudah mulai berkurang, tabunganmu yang kian hari kian menipis, dan masih banyak hal lagi yang dulunya adalah hal yang kau anggap selalu ada justru menjadi mulai hampa rasanya. Berada di titik ini adalah serangkaian proses panjang yang telah kamu lewati. Seringkali kita merasa bahwa kita sedang berada di titik terendah, tapi sebenarnya titik yang kita pijak sekarang adalah titik yang akan mengantarkan kita kepada pijakan berikutnya, titik dimana kita akan menjadi apa yang selama ini kita pinta. Titik yang kita tempuh hari ini mungkin bukanlah titik yang kita impikan, tapi bisa jadi titik ini adalah titik yang orang lain inginkan.

    Sebelum mentari menyapa esok hari, kau masih selalu punya malam yang panjang untuk akrab dengan penciptamu. Terus-menerus bertanya akan menjadi apa dirimu kelak hanya akan membuang sebagian waktumu yang dapat kamu alihkan dengan kesibukan lain. Teruslah berbicara pada langit yang luas tentang semua keluhmu, teruslah bersabar dengan segenap jiwamu, dan teruslah berjuang dengan seluruh ragamu. Lakukan apa saja yang kamu mau walaupun baru itu pertama, kita tidak pernah tahu bahwa tabungan pertama kita akan bermanfaat kelak, kita tidak pernah tahu bahwa tulisan pertama kita akan dibaca banyak orang, kita tidak pernah tahu bahwa tanaman pertama yang kita tanam akan berbuah, kita tidak pernah tahu video pertama kita akan dilihat banyak orang. Hidup adalah seni paling misterius, kita tidak pernah tahu kesempatan pertama yang kita tempuh akan berhasil atau gagal, tapi setidaknya ketika berani mengambil kesempatan pertama kita tidak akan pernah hidup dalam penasaran pertama.

Lantas apakah kau berkenan menjadi yang pertama bagiku dalam menjalani hidup?

 

Agung C. P

Malang, 1 Januari 2024

Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU