SEBILAH CERMIN

                                                             SEBILAH CERMIN

            Cermin mulai kuletakan di sudut hati, sembari menunggu kapan engkau dan aku bisa saling menatap, bolehkah aku gunakan cermin itu untuk melihat bahwa diri ini masih banyak kurangnya dan jauh dari kata sempurna?

Memilikimu bukanlah entitas kemustahilan, melainkan adalah hal yang selalu aku usahakan. Hai lentera? apa kabar? aku dengar kau akan selalu baik-baik saja di sana. Lentera seperti engkau akan terus menjadi pelita di antara remangnya gulana, temaramnya malam tanpa celah, dan selalu menjadi cahaya bagi dia yang mulai kehilangan arah. Kabar baik bagimu, sekarang aku selalu menyapamu di ujung malam, saat kau lelap dalam mimpimu yang jelas isinya bukan aku. Untaian sapa yang aku lontarkan seringkali bertransformasi menjadi pagi indah yang selalu kau lihat, semerbak wangi yang selalu kau hirup, atau sejumput bahagia yang tumbuh di relung hatimu. Bahagia yang aku harap selalu bisa tumbuh dengan teduh mirip parasmu, atau bahagia yang selalu dirindukan kaca karena cantikmu. Cermin yang dahulu kau titipkan kepadaku masih ku simpan di tempat yang sama, tempat yang kau inginkan, di ujung hati tempat dahulu kau dan aku hampir pernah sama-sama saling bermukim.

            Rasanya kita dulu pernah sama-sama menanam melati, lantas mengapa sebelum mekar dan wangi kau telah pergi?. Pergi dengan kaki mungilmu yang membawamu terbang menuju tempat tempat yang dahulu kala selalu kau bicarakan di obrolan kita setiap malam, tempat di mana kau menjemput bahagiamu, tempat di mana kau sekarang tidur dalam dekapan mimpimu. Aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, jika kata orang bahagiamu adalah bahagiaku, lebih dari pada itu bahagiamu adalah untaian setiap doaku. Satu persatu bahagiamu datang silih berganti, kaca yang mulai tengkurap akan parasmu, mentari yang mulai meredup akan binarmu, dan badai yang menjadi tenang karena sikapmu. Dari kejauhan aku akan selalu menatapmu dengan bangga, melihatmu berlari bebas seakan kompas telah menjadi sahabat dalam setiap langkahmu. Mungkin rute perjalanan kita berbeda, tapi aku harap kau dan aku akan sama-sama berjumpa di satu persimpangan bernama kebahagiaan.

            Cermin yang kau titipkan tidak hanya aku jaga sepenuh hati, melainkan juga akan aku gunakan dengan senang hati. Sejauh ini, dalam pantulan cermin aku hanya melihat diri yang masih biasa-biasa saja dan masih banyak kurangnya. Sembari melirik bayangmu yang mulai memudar dari cermin, aku akan selalu ingat bahwa kita pernah terjebak dalam cermin yang sama, cermin yang selalu mengingatkan bahwa kita adalah manusia sederhana yang masih banyak kurangnya. Cermin yang selalu mengingatkan bahwa kita suatu saat akan bisa bersama, dan cermin yang selalu mengingatkan bahwa suatu saat kita harus saling membahagiakan mama. Cita-cita yang kita punya mungkin berbeda, realita yang kita jalani juga berbeda, lantas apakah perasaan yang kita miliki juga harus berbeda?

       Di penghujung tahun yang rumit mirip kisah kita ini, aku harap kau selalu bisa menemukan jalan keluar di setiap permasalahan yang kau temui, setiap gelap yang kau sambangi, dan setiap sepi yang kau miliki. Selamat melanjutkankan perjalanan panjangmu dengan riang, aku juga akan melanjutkan perjalananku dengan senang. Cermin yang kau titipkan di ujung hatiku menanti kita kembali untuk menatapnya, taman melati yang kita tanam menunggu kembali disiram ketika malam menjelang, dapur kecil yang kita punya juga selalu menunggu puannya. Senang bisa mengenalmu sampai sejauh ini, sampai jumpa di persimpangan selanjutnya. Rumah yang tak megah ini akan selalu menanti kaki untuk pulang, sampai pada akhirnya kau dan aku sama-sama kembali bersulang dengan pencapain yang terang-benderang.

Kau tak perlu hadir dalam sedihku, tapi jika berkenan, bolehkah kau kembali dalam bahagiaku?

Agung C. P

Malang, 26 Desember 2023


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU