Menyapa-Nya
Menyapa-Nya
Dering telepon genggam seringkali lebih kita nantikan dibandingkan panggilan Tuhan, lantas apakah kita masih layak untuk meminta nikmat yang beribu sedangkan sujud kita yang masih terburu-buru?.
Banyak
pepatah mengatakan bahwa komunikasi adalah kunci dari sebuah hubungan. Sering
bertegur sapa, saling memberikan hadiah, bertukar perasaan adalah hal yang baik
untuk menjaga komunikasi tetap terjalin. Tapi terkadang kita juga
perlu berkomunikasi dengan zat yang paling agung, zat yang itu adalah Allah.
Setiap harinya, Allah selalu merindukan kita untuk terus berkomunikasi, menjaga
hubungan dengan Allah terkadang lebih sulit kita lakukan dibandingkan menjaga
hubungan dengan hamba-Nya. Allah rindu kita untuk pulang, berpelukan dengan
erat, bertegur sapa dengan cara yang hangat. Dalam kerinduan yang panjang,
terkadang Allah memberikan ujian bagi hamba-Nya sembari berharap hamba-Nya
ingat dan ingin kembali menyapa-Nya. Namun terkadang, kita sebagai hamba
yang memandang ujian sebagai petuah jahat yang dihiasi isi kepala yang terus
berkutat kenapa harus aku, dan bingung meminta tolong kepada siapa lagi untuk
menyelesaikan semua masalah ini. Terkadang kita pesimis untuk kembali pulang
dan meminta apapun kepada Allah karena yang kita minta dari dulu tak kunjung
diberi. Yakin dan percaya bahwa Allah akan memberikan apa yang kita butuhkan
bukan apa yang kita inginkan, memberikan semua pada waktu yang tepat
menurut-Nya bukan tepat waktu menurut kita. Allah adalah Tuhan yang sama ketika
tidak menghukum kita secara langsung ketika kita bermaksiat, Allah adalah Tuhan
yang sama ketika tidak menghukum kita secara langsung ketika kita lupa dengan
akhirat, dan Allah adalah Tuhan yang sama ketika tidak menghukum secara
langsung ketika kita lambat untuk bertobat. Sapalah Allah, Allah pernah, masih,
dan akan selalu merindukanmu.
Keraguan
adalah hal biasa yang dimiliki oleh setiap hamba, ragu karena doa kita belum
ada yang terwujud, ragu keinginan kita selalu menjadi lebih jauh padahal sudah
sering bersujud, atau terkadang kita ragu karena masalah datang silih berganti
padahal kita sudah beribadah sampai pagi. Satu kata yang kita pegang adalah
optimis, Allah tau kapan yang terbaik untuk kita. Nabi Ibrahim tidak pernah tau
kalau api yang membakarnya berubah menjadi dingin, yang ia tahu bahwa Allah
pasti akan menolongnya, Nabi Musa tidak pernah tau laut di depannya akan
terbelah, yang ia tahu bahwa Allah pasti akan menolongnya, Nabi Yunus tidak
pernah mengira bahwa ia bisa keluar dari perut ikan paus, yang ia tahu bahwa
Allah akan menolongnya. Mereka hanya yakin dan percaya bahwa Allah akan selalu
ada di waktu yang tepat. Allah akan selalu hadir dalam langkah hidup kita walau
terkadang kita sering lupa, Allah akan selalu bersama dengan kita walau
terkadang kita lama tidak menyapa-Nya. Semua yang kita jalani jalani hari ini
adalah takdir, semua yang kita terima hari ini bukan berarti hasil akhir,
berikhtiarlah sekuatnya, berdoalah selamanya.
Dalam terbit
mentari kali ini, Allah menyapamu dengan hangat. Berharap hamba yang
dicintainya untuk kembali menyapa-Nya dengan riang. Pulang, setelah sekian lama
kehilangan arah, mengejar dunia sampai akhirnya pasrah. Takdir yang kau anggap
pahit hari ini adalah hadiah manis dari Allah untuk menjadikanmu lebih dekat.
Yang baik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah. Dari banyaknya masalah
yang membuatmu patah, dan beribu takdir yang terkadang membuatmu ingin
menyerah, mungkin kali ini waktu yang tepat untuk berbenah.
Malang, 2 Juni 2024
Agung Cahyono Putro
Komentar
Posting Komentar