LENTERA

                                                                            LENTERA

Dalam temaram Malang yang dingin, canda, tawa, dan kisahmu akan selalu membuatku terasa hangat. Ujung pagi sebentar lagi mulai menyapa, lantas apakah kali ini aku kembali jatuh cinta?.

Gemuruh badai yang dulu datang silih berganti kini mulai mereda, malam yang terkadang riuh dengan berbagai derita sekaan kini kembali sempurna. Bintang di langit mulai terlihat, angin tipis yang berbisik melewati telinga, serta dedaunan yang menari dengan indahnya. Luka yang dahulu berbekas mulai memudar, aku harap segala kenangan yang pernah ada juga mulai terpugar. Engkau merupakan sosok luar biasa yang pernah aku temui, namun nyatanya masing-masing dari kita tidak pernah bisa untuk saling menyempurnakan. Temu adalah kemustahilan bagi kita, dan usai adalah realita yang harus kita terima, selamat melanjutkan perjalananmu. Aku adalah orang yang bangga melihat segala proses besarmu yang dulu sering kau ceritakan melalui ponsel, yang kau kabarkan ketika berhasil, dan yang kau keluhkan ketika gagal.

    Setelah melewati berbagai gelap yang tak berujung, aku kembali menemukan binar kedua yang hadirnya bukan lagi tepat waktu melainkan hadir di waktu yang tepat. Aku menyebutnya sebagai cahaya kedua yang memberikan kehangatan dalam dingin, dan memberikan binar dalam gulita. Cahaya sempurna yang lahir dari cantik dan utuhnya cahaya rembulan. Teduh paras dan sikapnya seakan meyakinkanku untuk menjadikanmu tempat pulang, melepas segala keluh dan kesah, serta merakit segala mimpi yang dulu telah berantakan. Mengenalnya lebih jauh, mendengar suaranya lewat ponsel pada jam sebelas malam, atau mengetahui bahwa dia masih dan tetap baik-baik saja di sana adalah anugrah yang aku syukuri sampai hari ini. Sejauh ini mungkin sempurna adalah kata yang tepat untuk dirinya. Binar yang terus terpancar serta energi tak tertandingi yang kau miliki seakan membuatku akan terus menemukan jalan bila selalu ada di dekatmu. Dia tumbuh dengan segala mimpi yang dia punya, dia tumbuh dengan segala kasih yang dia miliki, lebih dari itu dia mampu tumbuh dengan caranya sendiri. Lantas apakah aku dan dia dapat tumbuh bersama suatu saat nanti?.

    Sosok sempurna mirip mentari sepertinya jelas mampu besar dan bersinar dengan caranya sendiri. Terkadang tidak butuh hal lain bersinar, tidak perlu orang lain untuk terus berpijar. Jika dia layaknya mentari, sebaliknya aku adalah sosok yang lahir saat badai sedang bersik. Gemuruh langit adalah hal yang aku jadikan teman dekat saat aku mencoba tumbuh. Derasnya hujan deras adalah satu-satunya sahabat yang aku miliki, serta kilatan petir adalah satu-satunya cahaya yang mampu diandalkan ketika aku kehilangan arah. Jangankan berpikir untuk bisa terus bersinar sepertinya, selamat dari pekikan badai yang tak kunjung usai saja aku sudah senang. Banyak orang yang bilang bahwa pelaut hebat tak pernah lahir di lautan yang tenang, tapi aku juga tidak mau terus-terusan berhadapan dengan badai yang tak kunjung usai ini. Gemuruh guntur masih bersahutan di kejauhan, tapi aku akan tetap berharap bahwa esok pagi akan cerah. Aku yakin, dia akan hadir sebagai cahaya pertama di ufuk timur, menghangatkanku setelah semalaman diterpa badai, memberikanku sarapan berupa harapan jika bersamanaya aku akan baik-baik saja.

    Setelah mengenalnya lebih jauh lagi, rasanya indah jika dia yang lahir dari kata sempurna dan aku lahir yang dari badai yang berisik ini dapat berjalan bersama-sama. Berdua, saling melengkapi. Bukankah luar biasa jika ombak yang besar mampu kita hadapi karena kau menyinari jalan yang kita lalui. Bukankah indah jika karang di depan sana mampu kita hindari karena itu adalah hal yang sering aku temui. Aku akan mengajarkannya untuk kuat dalam segala medan yang ditempuh, dan dia mengajarkanku bahwa banyak hal di luar sana yang harus mampu aku rengkuh, indah sekali bukan. Dalam perjalanan kehidupan yang tak menentu terkadang kita dihadapkan dua hal, pertama adalah perihal yang kita senangi, dan kedua adalah perihal yang tidak kita senangi. Namun, apapun kondisinya kedua hal tersebut wajib kita syukuri. Sama aku juga bersyukur bisa mengenalnya sampai sejauh ini. Badai kian mereda dan hilang, hangat mentari mulai merata di sekujur tubuh. Segala luka yang aku punya kembali sembuh, segala duka yang aku miliki telah luruh. Kita adalah sosok berbeda yang kini masih berjauhan, tapi aku harap aku dan dia dapat saling menyempurnakan.

Agung C. P

Malang, 19 Juli 2024

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

JALAN PANJANG

ABADI

TEPAT WAKTU