TUMBUH
TUMBUH
Air
yang menetes dari langit tak kunjung berhenti turun, seakan menangis haru
karena telah lama kehilangan birunya. Begitu juga dengan aku yang lagi-lagi
susah payah mengenalmu namun tak kunjung mendapatkan cintamu. Gemintang telah
lama menghilang, namun sampai kapanpun kau yang akan selalu ku kenang.
Akhir-akhir ini gemuruh guruh sering terdengar tapi tidak denganmu yang makin hari makin tiada kabar. Ponsel yang sering bergetar kini berubah senyap bagai rumah yang ditinggal penghuninya. Musim hujan datang saat tulisan ini dibuat. Sore yang dulu dihiasi warna ungu muda kesukaanmu kini berubah menjadi kelabu sendu yang datang menjemput malam. Malam yang dulu riang kini seakan menghilang dimakan keadaan. Aku lupa kapan terakhir kali kita makan malam dengan menu oriental favoritmu, aku juga telah lupa kapan kita terakhir kali membeli kopi susu di café yang katamu lucu itu, dan aku juga telah lupa kapan terakhir kali kita mendengarkan lagu bersama dan berharap semua akan baik-baik kedepannya. Namun, satu hal yang tak pernah aku lupa adalah sikapmu yang teduh dan bersedia menjadi tempatku berkeluh ketika duniaku sedang runtuh.
Sementara itu, dalam dekapan malam menuju pagi aku terus-menerus memikirkanmu. Membayangkan betapa sempurnanya jika aku dan kau pulang dalam satu rumah yang sama. Bersama berjalan menuju rumah ibadah, bersama menikmati sarapan ditemani kopi low sugar yang tetap terasa manis karena senyummu yang tulus, menghabiskan sore dipayungi langit jingga yang masih kalah dengan kau yang mempesona, serta menghabiskan malam dengan menonton sinema yang itu-itu saja karena bagiku film terbaik adalah kisah kita. Kisah kecil-kecil yang diiringi mimpi besar untuk sama-sama bermanfaat bagi sekitar, kisah sederhana namun bagiku terasa istimewa karena cinta kita tak ada ujungnya, serta kita sederhana yang yang kini aku impikan semoga suatu saat menjadi kenyataan.
Bunga yang hari ini mekar dengan cantik tidak ditanam kemarin sore, bunga itu butuh waktu, air, makanan, dan kasih sayang penciptanya untuk akhirnya mekar dan sempurna. Begitu juga dengan kita, masih banyak waktu yang harus kita tempuh untuk sama-sama saling berjuang, masih perlu banyak bekal yang harus kita siapkan agar kita sama-sama kenyang, masih perlu banyak belajar sebelum aku dan kau mungkin menjadi sepasang. Tumbuhlah dengan cara yang kau cintai, berlarilah di jalan yang ingin kau susuri, berjuanglah untuk untuk segala mimpi yang selalu kau puji. Dengan begitu aku juga akan tumbuh dengan caraku sendiri sembari melihatmu tumbuh dari hari ke hari. Kapal yang aku rakit butuh proses untuk menjadi bahtera, perlahan-lahan satu persatu. Maaf jika seringkali hadirku tidak tepat waktu dan justru kau anggap mengganggu prosesmu. Jika lautan bisa pasang dan surut, aku harap aku dan kau bisa saling bertaut. Jika langit bisa biru dan kelabu, aku harap aku dan kau tidak berseteru melulu.
Tumbuhlah
agar suatu saat lebih kau lebih bersinar, mataku akan berbinar ketika melihatmu
berhasil, melihatmu menjadi lebih baik, dan melihatmu sampai pada mimpi yang
kau ceritakan kala itu. Tidak ada mimpi yang terlalu besar untuk kita yang yang
selalu berjuang dari hal yang sederhana menjadi hal yang luar biasa. Jika
duniamu sedang runtuh temukan aku untuk berkeluh. Selamat memperjuangkan impian
masing-masing, barangkali saat ini kita belum bisa bersama tapi aku selalu
berharap suatu saat nanti kita bisa berdua dalam sebuah romansa. Dalam sebuah
malam yang teduh aku kembali mengingatmu dengan utuh, dalam malam yang dingin
aku menyadari bahwa hanya yang kuingin. Jauh dari gemerlap cahaya, sepi dari
canda dan tawa, dan asing dari kata sempurna, tapi aku harap aku dan dan kau mampu untuk saling menyempurnakan.
Agung
C. P
Surakarta,
3 Oktober 2024
Komentar
Posting Komentar