TANGGA
TANGGA
Januari akrab dengan hujan, begitu juga dengan kita yang makin hari makin akrab layaknya Januari dan hujan yang tidak bisa dipisahkan. Awal tahun yang teduh ditambah sorot matamu yang sayu tentu membuatku semakin rindu akan akan pelukmu. Udara yang dingin di bulan ini tidak pernah kurasakan karena sikapmu yang makin hari makin hangat saja. Banyaknya petir yang jatuh bulan ini tidak pernah aku hiraukan karena bagiku lebih menarik jatuh hati padamu daripada banyaknya petir yang jatuh. Air hujan yang turun membasahi tidak pernah membuat kasihku luntur, justru membuatnya tumbuh dan mekar di esok hari. Lagi-lagi hujan di Januari tidak pernah salah, tapi mungkin hadirku di kehidupanmu tiba di waktu yang salah.
Tangga
di rumah mungkin bisa menjadi licin karena terus menerus terkena hujan yang tak
kunjung henti. Bisa membuat kita terpeleset tapi juga bisa membuat kita menjadi
lebih hati-hati. Jika anak tangga dalam sebuah rumah kita lewati satu persatu
mungkin akan terasa lama tapi tidak membuat kita kelelahan. Berbeda jika anak
tangga kita lewati secara acak tidak berurutan, mungkin akan sampai tujuan
lebih cepat, tapi bisa juga kita terpeleset dan jatuh. Semua adalah pilihan,
bergantung kita ingin memilih yang mana, namun yang jelas aku akan tetap
memilihmu. Melewati anak tangga bersamamu secara perlahan dengan pasti aku rasa
tidak begitu buruk. Semua masih bisa dipersiapkan, semua masih bisa
diperjuangkan, dan semua masih bisa aku dan kau usahakan.
Tumbuh
bersama, belajar bersama dan berjuang bersama. Mungkin semua akan terasa lama
tapi aku yakin dan percaya jika kita berdua akan sampai pada tujuannya. Tangga
yang kita lewati hari ini akan menjadi pelajaran yang akan kita petik di hari
kelak. Jatuh, bangun, dan bangkit adalah rutinitas bagi kita entitas memilih
hidup di jalan yang keras. Kerasnya badai yang menerpa tidak akan pernah ku
hiraukan karena aku masih memilikimu yang bersifat lembut. Riuhnya cacian tidak
pernah aku hiraukan karena aku memilikimu yang bertutur kata sopan, dan
derasnya arus tidak pernah membuatku mundur karena kau selalu meyakinkanku
untuk terus maju. Terima kasih telah menjadi bunga yang semi di kala hidup yang
gugur, terima kasih telah menjadi air yang mengalir di hidup yang gersang, dan
terima kasih telah menjadi menjadi sosok yang kokoh dalam kehidupan yang hampir
runtuh. Mengenalmu adalah niscaya, mencintaimu adalah sempurna.
Dalam
pertengahan Januari tahun ini aku harap kau tetap jadi orang baik yang
kebaikannya mampu menghidupi orang lain. Menjadi orang yang memiliki sabar
seluas samudra dan menjadikan semua rintangan terasa biasa saja. Banyak anak
tangga yang akan kau lewati di depan. Aku harap kau melewatinya perlahan-lahan,
satu persatu sampai akhirnya tiba di tujuan yang kau inginkan. Aku akan selalu
menjadi orang yang bangga atas semua yang kau capai, menjadi orang yang suka
ketika kau meraih semua cita. Begitu juga dengan aku, melewati semua tangga di
depan dengan bangga karena melihatmu yang selalu ada. Tangga yang kita lewati
mungkin beda, jumlah anak tangga lewati mungkin juga tak sama, tapi aku harap
kita akan bisa kembali bertemu di ujung sana ketika sudah siap untuk saling
menyempurnakan. Kelak aku harap kita bertemu lalu bersiap untuk mendaki tangga
berikutnya secara bersama-sama. Aku dan kau kelak mungkin akan menjadi kita.
Bertukar asa, cinta, dan menua bersama. Sampai jumpa di ujung tangga, jangan
pernah merasa ragu untuk melangkah karena aku akan terus ada di sampingmu,
menjagamu dan tentunya mencintaimu.
Agung
C. P
Surakarta,
13 Januari 2025
Komentar
Posting Komentar